Pabrik gula di bumi “nggahi rawi pahu”

Pabrik gula di bumi “nggahi rawi pahu”

Category : Berita

sumber : http://www.antarantb.com/

Pabrik gula di bumi "nggahi rawi pahu" oleh

Sabtu, 30 Mei 2015 09:32 WIB

Pabrik gula di bumi

 

 

 

Pabrik Gula yang dibangun PT SMS di Desa Dorotangga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Domppu, Nusa Tenggara Barat

 

 

 

 

 

 

 

 

…Letusan dahsyat Gunung Tambora dengan ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut sejatinya memberikan berkah bagi masyarakat di Kabupaten Dompu dan NTB pada umumnya karena lahan di lereng Tambora itu kini sedang dibangun pabrik gula"

 

 

 

 

 

Sekitar 200 tahun silam, tepatnya pada bulan April 1815, Gunung Tabmbora meletus, memuntahkan jutaan meter kubik material ke atmosfir yang mengubur tiga kesultanan kecil serta merenggut puluhan ribu jiwa.

Bahkan, pada tahun 1816, di Eropa terjadi tahun tanpa musim panas yang menimbulkan musibah kelaparan.

Namun, kini hamparan lahan kering yang membentang luas di lereng Tambora itu memberikan berkah bagi masyarakat di "Bumi Nggahi Rawi Pahu" (moto Kabupaten Dompu). Di kawasan lereng Tambora itu ternyata cocok untuk tanaman tebu, terutama dari segi agroklimat.

Letusan dahsyat Gunung Tambora dengan ketinggian 2.700 meter di atas permukaan laut sejatinya memberikan berkah bagi masyarakat di Kabupaten Dompu dan NTB pada umumnya karena lahan di lereng Tambora itu kini sedang dibangun pabrik gula.

Potensi ribuan hektare lahan kering yang didukung agroklimat yang cocok untuk jenis tanaman tebu itu menarik minat investor nasional untuk membangun pabrik gula di Kabupaten Dompu.

Project Manager PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) Yohan Setiawan mengaku tertarik membangun pabrik gula dan perkebunan tebu di Dompu karena kawasan tersebut sesuai untuk pengembangan komoditas tersebut, terutama dari segi agroklimat cocok bagi tanaman tebu.

Pabrik gula yang dibangun sejak Maret 2014 di desa itu ditargetkan rampung dan memulai penggilingan tebu perdana pada bulan April 2016 dengan kemampuan produksi gula pasir kristal putih dari 750.000 ton tebu setiap tahun. Tebu tersebut dihasilkan dari lahan inti milik perusahaan yang diberikan oleh pemerintah daerah seluas 5.500 hektare dengan status hak guna usaha (HGU).

Pabrik yang diberi nama Tambora Sugar Estate dirancang berkapasitas 5.000 tons cane per day (TCD) dan dapat dikembangkan menjadi 10.000 TCD. Kehadiran pabrik gula ini untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, khusunya di kawasan timur Indonesia.

Pabrik gula yang mampu memproduksi 750.000 ton gula pasir per tahun itu untuk melayani kebutuhan gula pasir di kawasan timur Indonesia yang mencapai 2.000.000 ton/tahun.

Total luas lahan yang sudah ditanami areal tebu mencapai 10.000 hektare. Bahkan, rencananya akan terus diperluas lagi dengan rencana penambahan areal mencapai 5.000 haktare sehingga pada saat beroperasi secara penuh nanti akan menjadi 15.000 hektare.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan pabrik gula di Kabupaten Dompu itu mulai beroperasi pada tahun 2016. Pada tahap pertama, akan menggiling tebu sebanyak 5.000 ton/hari. Jika dihitung, dalam setahun, produksi mencapai bisa 750.000 ton.

Dengan kapasitas sebanyak itu, kata Kepala Dinas Perkebunan NTB Husnul Fauzi, pemenuhan kebutuhan gula untuk wilayah timur Indonesia bisa terpenuhi, bahkan pemerintah bisa mengurangi ketergantungan pada gula impor pada tahun 2019, yang jumlahnya mencapai 2,5 juta ton.

Untuk membangun proyek itu, PT Sumber Makmur Sejahtera selaku pelaksana pembangunan menginvestasikan dana sebesar Rp1,6 triliun untuk membangun pabrik dan menyiapkan ladang petani.

Pabrik gula Tambora Sugar Estate menyerap tenaga kerja untuk sektor inti sebanyak 500 orang dan sektor penunjang bisa mencapai sekitar 3.000 orang.

Selain itu, juga secara langsung dapat meningkatkan perekonomian sektor riil dan nonriil, seperti pertanian, transportasi, bangunan, keuangan, perdagangan, pajak, dan jasa-jasa lain di Kabupaten Dompu.

Menurut Husnul Fauzi, saat ini progrses pembangunan pabrik gula itu sudah mencapai 48 persen dan ditargetkan pabrik yang hanya ada satu-satunya di wilayah timur Indonesia bisa beroperasi pada tahun 2016.

Kualitas gula yang akan dihasilkan oleh pabriknya adalah kualitas gula tertinggi mendekati SNI 1 karena bibit yang digunakan adalah bibit unggulan dengan masa tanam 6–7 bulan dan menghasilkan tanaman tebu setinggi hingga 3,5 meter.

Meningkatkan Perekonomian

Sementara itu, penanggung jawab proyek PT SMS Hilman Manan berharap keberadaan pabrik tebu di Dompu mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, terutama warga sekitar pabrik, karena akan menyerap banyak tenaga kerja.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga bisa menanam tebu di kebun miliknya dan menjualnya ke pabrik bermitra dengan perusahaan.

"Komitmen kami untuk menyejahterakan masyarakat terlihat dari sistem kami membeli tebu dengan sistem beli putus sehingga tidak ada calo yang bermain. Penjualan ini pun lebih menguntungkan petani karena kami membelinya dengan harga tertinggi antara Rp380 ribu dan Rp400 ribu/ton," katanya.

Dengan sistem beli putus, menurut Hilman, pihaknya juga sudah menyiapkan koperasi, yakni Koperasi Tambora Sejahtera, untuk menfasilitasi petani.

Untuk menjaga kesinambungan pasokan bibit tebu, pihaknya juga mengembangkan kebun pembibitan seluas 700 hektare yang terdiri atas milik perusahaan 100 hektare dan milik petani 600 hektare.

Bibit hasil dari kebun pembibitan tersebut, kata dia, akan dibagikan kepada petani mitra untuk ditanaman di kebun-kebun mereka.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB Wildan mengatakan bahwa pabrik gula pasir milik PT Sukses Mantap Sejahtera di Kabupaten Dompu membutuhkan sebanyak 20.000 tenaga kerja.

"Itu kebutuhan untuk penanaman hingga pemanenan tebu yang menjadi bahan baku utama pembuatan gula pasir," katanya.

Ia menyebutkan dari total tenaga kerja yang dibutuhkan, sebanyak 8.000 orang sudah disiapkan, sisanya sebanyak 12.000 orang yang masih harus dicari untuk menunjang penanaman hingga pemanenan tebu.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan NTB terkait dengan kebutuhan tenaga kerja yang harus disiapkan untuk menunjang operasional pabrik gula pasir tersebut," katanya.

Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja yang relatif banyak tersebut tentu menjadi peluang bagi masyarakat NTB yang belum memiliki kesempatan bekerja. Perekrutan tenaga kerja di sektor perkebunan tersebut juga bisa menekan jumlah tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, terutama ke Malaysia.

Peluang kerja di pabrik gula pasir tersebut, kata Wildan, tidak hanya untuk masyarakat di Kabupaten Dompu, tetapi juga kabupaten/kota lainnya di NTB, yang berminat bekerja di perkebunan tebu.

Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kabupaten Dompu terus berkoordinasi terkait dengan masalah peluang kerja tersebut.

"Perekrutan tenaga kerja dalam jumlah besar bukan berarti mengambil lahan pekerjaan masyarakat lokal. Mereka tetap menjadi prioritas. Namun, karena yang dibutuhkan relatif banyak, perlu disiapkan dari luar," tuturnya.

Wildan juga menegaskan bahwa pihaknya hanya sebagai fasilitator bagi masyarakat yang membutuhkan pekerjaan di sektor industri. Disnakertrans NTB juga siap untuk memberikan pendampingan dan perlindungan bagi pekerja pabrik gula pasir itu.

"Kami akan fasilitasi dan memberikan perlindungan bagi pekerja dengan mengarahkan perusahaan membuat perjanjian kerja bersama (PKB) supaya pekerja tidak bernasib buruk," ujarnya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat T.G.H. Zainul Majdi berharap pembangunan pabrik gula di Kabupaten Dompu sudah bisa beroperasi pada tahun 2016.

"Saat ini pembangunannya terus dikebut, bahkan penanaman tebu terus diperluas," katanya.

Pembangunan pabrik berikut ladang tebu dengan nilai investasi mencapai Rp1,6 triliun tersebut akan mampu menyuplai kebutuhan gula di kawasan timur Indonesia.

Oleh karena itu, dia berharap pembangunan pabrik gula dengan investasi swasta tersebut dapat mampu mendorong kesejahteraan masyarakat, khususnya di sekitar lokasi pembangunan pabrik.

"Masyarakat harus bisa menjaga ini dengan sebaik-baiknya," katanya.

Tak disangka kawasan lereng Tambora yang luluh lantak akibat letusan dahsyat Gunung Tambora 200 tahun silam itu menyisakan berkah bagi masyarakat di "Bumi Nggahi Rawi Pahu". Kehadiran pabrik gula pertama di kawasan timur Indonesia ini semoga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(*) COPYRIGHT © 2015