DONGKRAK BARU PENDUKUNG SWASEMBADA GULA DI NUSA TENGGARA BARAT

DONGKRAK BARU PENDUKUNG SWASEMBADA GULA DI NUSA TENGGARA BARAT

Category : Berita

Sumber : ditjenbun.pertanian.go.id

Oleh :

Amalia Farra Sabrina, S.TP

PBT Ahli Muda

Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya

 

 

“Tiada hari tanpa manisnya gula “, adalah  sepenggal kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan betapa gula merupakan kebutuhan masyarakat yang sangat penting. Pemanfaatan gula oleh masyarakat yang sangat beragam, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi langsung rumah tangga maupun untuk kebutuhan industri, merupakan salah satu penyebab kebutuhan gula dalam negeri yang selalu mengalami peningkatan.

Indonesia memiliki potensi menjadi produsen tanaman perkebunan dunia karena dukungan agroekosistem, luas lahan dan tenaga kerja. Secara historis, industri gula merupakan salah satu industri perkebunan tertua dan terpenting yang ada di Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia pernah mengalami era kejayaan industri gula pada tahun 1930-an dimana jumlah pabrik gula yang beroperasi adalah 179 pabrik gula, produktivitas sekitar 14,8 % dan rendemen mencapai 11,0 – 13,8 %. Dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton, dan ekspor gula pernah mencapai sekitar 2,4 juta ton. Hal ini didukung oleh kemudahan dalam memperoleh lahan yang subur, tenaga kerja murah, prioritas irigasi,dan disiplin dalam penerapan teknologi (Sudana dkk, 2000). Pamor Indonesia yang pernah menjadi negara pengekspor gula terbesar kedua dunia setelah Kuba, secara berangsur menurun menjadi negara importir gula, saat ini Indonesia menjadi importir terbesar pertama di Asia dan terbesar kedua dunia setelah Rusia (Nainggolan, 2007).

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Riyanto menyatakan Indonesia mengimpor gula rafinasi dan gula mentah sejak 1990-an untuk industri makanan dan minuman, karena saat itu belum ada industri gula rafinasi di Indonesia. Pada tahun 2014 ini, realisasi impor gula mentah mencapai 2,8 juta ton dan di tahun 2015 kebutuhan impor gula mentah diperkirakan mencapai sekitar 3,2 juta ton. Data Kementerian Perindustraian, Indonesia sekarang memiliki 56 Pabrik Gula yang tersebar di Indonesia dan menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Gamal Nasir menyatakan, secara keseluruhan realisasi produksi gula nasional sampai September 2014 sebesar 2.020.609 ton, dengan luas tanaman 366.968 hektar dan rendemen sebesar 7.49%. Dan berdasarkan data Dewan Gula Indonesia menyatakan Pulau Jawa diyakini masih memberikan kontribusi terbesar dari produksi gula nasional, yakni mencapai 1.162.208 ton dengan luas lahan tebu di Jawa saat ini sebesar 310.259 hektar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kontribusi produksi gula dari luar Jawa yang hanya 858.402 ton dengan luas lahan hanya sekitar 142.055 hektar.

Menurut Suswono, ketika masih menjadi sebagai Menteri Pertanian mengatakan, banyak masalah yang dihadapi dalam pencapaian swasembada gula 2014, diantaranya adalah dampak perubahan iklim, sulitnya pengembangan areal baru, kurangnya dukungan kebijakan tata ruang di provinsi dan kabupaten, keterbatasan infrastruktur terutama untuk wilayah pengembangan di luar Pulau Jawa, kurangnya sarana irigasi dan penyediaan agroinput yang belum tepat jumlah, waktu, harga dan mutu.

Program Swasembada Gula adalah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional melalui produksi gula yang bersumber dari areal tebu rakyat (252.166 hektar) dan areal tebu swasta (198.131 hektar). Pemerintah dalam mencapai swasembada gula adalah melalui program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil tanaman tebu secara berkelanjutan. Salah satu wujud peningkatan produksi dengan membangun Pabrik Gula di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Provinsi Nusa Tenggara Barat dipercaya pemerintah pusat sebagai lokasi pengembangan Tebu Nasional untuk mendukung Swasembada Gula khususnya untuk pemenuhan kebutuhan Gula Nasional wilayah Timur sebesar ± 750.000 ton per tahun. Propinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai luasan sekitar 19.750 Km2 dan secara administratif dibagi menjadi 6 kabupaten. Secara fisiografis wilayah ini dapat dibedakan menjadi (a) daerah dataran seluas 1.314 Km2, (b) volkan seluas 7.037 Km2, (c) lipatan dan patahan seluas 10.901 Km2, dan (d) angkatan seluas 498 Km2. Daerah lipatan dan patahan umumnya berupa perbukitan dan pegunungan dan penyebarannya paling luas, terutama berada di bagian Selatan pulau Lombok dan Sumbawa.

Tanah-tanah di NTB didominasi oleh ordo Inceptisols (Kambisol) dan Alfisols (Mediteran). Ordo tanah lain yang juga dijumpai di NTB adalah Entisols, Andisols, Mollisols, dan Vertisols. Ordo Inceptisols yang ada di wilayah ini dicirikan oleh solum yang dalam, tekstur sedang – agak halus, bereaksi agak asam – netral, kandungan bahan organik rendah, kandungan P dan K cukup tinggi, Kapasitas Tukar Kation (KTK) rendah, dan Kejenuhan Basa (KB) tinggi, dengan cadangan mineral cukup tinggi dan regim kelembaban aquik – ustik (Indrawanto, 2010). Sementara itu ordo Alfisols dicirikan oleh solum yang dalam, drainase baik, permeabilitas sedang – agak cepat, tekstur agak halus, reaksi tanah agak masam – netral, kandungan bahan organik rendah, kandungan P dan K, KB, dan cadangan mineral cukup tinggi dan regim kelembaban umumnya tergolong ustik. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah NTB didominasi oleh tanah-tanah yang umumnya masih memiliki cadangan mineral dan hara serta tingkat kesuburan cukup baik.

Secara klimatologis wilayah NTB umumnya beriklim kering. Hal tersebut juga tecermin dari sebagian besar tanahnya yang memilik regim kelembaban ustik (kering). Curah hujan berkisar antara 800 – 2500 mm/tahun dan kelembaban udara rata-rata sekitar 85 %. Kabupaten Dompu khususnya Kecamatan Pekat dipilih sebagai lokasi perluasan areal tebu karena memenuhi kesesuaian teknis agroklimat budidaya tebu yang didukung dengan topografi lahannya yang rata.

Syarat tumbuh tanaman tebu tumbuh didaerah tropika dan subtropika sampai batas garis isoterm 200C yaitu antara 190 LU – 350 LS. Kondisi tanah yang baik bagi tanaman tebu adalah yang tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah, selain itu akar tanaman tebu sangat sensitif terhadap kekurangan udara dalam tanah sehingga pengairan dan drainase harus sangat diperhatikan. Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna, oleh karena itu upaya pemecahan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil akan memudahkan akar menerobos. Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH 6 ‐ 7,5, akan tetapi masih toleran pada pH tidak lebih tinggi dari 8,5 atau tidak lebih rendah dari 4,5. Pada pH yang tinggi ketersediaan unsur hara menjadi terbatas. Sedangkan pada pH kurang dari 5 akan menyebabkan keracunan Fe dan Al pada tanaman, oleh karena itu perlu dilakukan pemberian kapur (CaCo3) agar unsur Fe dan Al dapat dikurangi.

Menurut Gubernur Muhammad Zainul Majdi, melalui dukungan anggaran APBN tahun 2014 dilakukan pengembangan tebu seluas 1.000 hektar, dengan melibatkan petani plasma ± 1.000 orang dan atas dukungan investasi pihak swasta PT. Sukses Mantap Sejahtera sebesar 1,6 Triliun dengan luas areal HGU (Hak Guna Usaha) seluas 5.700 hektar. Selanjutnya tahun 2015 pengembangan petani plasma atas dukungan APBN direncanakan menjadi 3.000 hektar, sehingga jumlah pengembangan tebu untuk mendukung program Swasembada Gula Nasional khususnya Indonesia Timur seluas 9.700 hektar, untuk memenuhi kapasitas pabrik gula 5.000 ton per hari. Pabrik yang diperkirakan akan mulai beroperasi pada bulan September 2015, nantinya akan menyerap tenaga kerja sebanyak 12.000 orang.

Pengembangan tebu rakyat seluas 1.000 hektar dari Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) di Kecamatan Pekat tersebar dalam 10 desa, yaitu : Desa Nangamiro 25 Ha ; Desa Doropeti 116 Ha ; Desa Pekat 218,5 Ha ; Desa Sorinomo 252 Ha ; Desa Calabai 41 Ha ; Desa Beringin Jaya 127 Ha ;  Desa Nangakara 81,5 Ha ; Desa Karombo 25 Ha ; Desa Kadindi Barat 50 Ha ; serta Desa Tambora 64 Ha. Kebutuhan bibit tebu telah disiapkan oleh PT. Sukses Mantap Sejahtera dan telah ditanam di Kecamatan Pekat dan selanjutnya telah mendapat Sertifikat Mutu Benih dari Balai Pembibitan Tanaman Perkebunan (BPTP) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Selain itu telah dilakukan penyiapan lahan, baik menggunakan Sistem Land Clearing(penyiapan lahan dengan menggunakan alat berat/traktor besar) maupun Sistem Non Land Clearing (penyiapan lahan tanpa menggunkan alat berat). Dimana seluruh lahan telah diolah dan siap untuk ditanami bibit tebu.

Berbagai peran pemerintah, pihak swasta, masyarakat, dan instansi yang terkait telah dilaksanakan demi suksesnya Program Swasembada Gula di Tanah Gora, antara lain :

  1. Kunjungan lapangan oleh Bapak Wakil Gubernur NTB dan Wakil Bupati Dompu beserta Instansi terkait ke lokasi Pengembangan Pabrik Gula guna pengawasan dan monitoring perkembangan pembangunan pabrik ;
  2. Kegiatan monitoring yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB beserta Pemerintahan Kabupaten Dompu dan Instansi terkait kepada Petani Tebu, dimana masyarakat sekitar khususnya petani tebu siap ikut mensukseskan program pengembangan tebu di Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu ;
  3. Pihak Kepolisian Daerah NTB juga ikut serta dalam menjaga keamanan proses pengembangan investasi tebu di Kabupaten Dompu ;
  4. Rapat Koordinasi yang intensif antara Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Dompu, Perwakilan PT. Sukses Mantap Sejahtera dan Instansi terkait dalam rangka menciptakan kondisi keamanan yang kondusif dan pembangunan pabrik gula dapat berjalan dengan lancar.

Berikut gambaran pengembangan pabrik gula hingga Desember 2014 :

 

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Memet. 2010. Potensi Sumber Daya Lahan untuk Tanaman Tebu di Indonesia. Jurnal Agrikultura 2010, 21(1) : 5-12.

Indrawanto, Chandra, Purwono, Siswanto, M.Syakir, dan Widi Rumini, MS. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. ESKA Media. Jakarta.

Ismail, Isro. 2004. Potensi Pengembangan Industri Gula Di Nusa Tenggara Barat. Jurnal Penelitian. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Pasuruan.

Mulyadi, Mohamad, Aris Toharisman, dan Mirzawan, PDN. 2009. Identifikasi Potensi Lahan untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis Tebu Di Wilayah Timur Indonesia. Jurnal Penelitian. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia. Pasuruan.

Nainggolan, Kaman. 2007. Kebijakan Gula Nasional dan Persaingan Gula. Jurnal. Jakarta.

Sudana, W.P.Simatupang, S.Friyanto,C.Muslim, dan T.Soelistiyo. 2000. Dampak Deregulasi Industri Gula Terhadap Realokasi Sumberdaya, Produksi Pangan, Dan Pendapatan Petani. Laporan Penelitian, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.